Minggu, 04 Mei 2008

sekolah adalah tempat berekspresi !


Waktu aku masih masih ingusan dan belum bisa kencing sendiri, ibu sudah mengajakku untuk masuk sekolah. Disana ketemu dengan beberapa orang yang bilang padaku kalau mereka adalah guru. Aku diberi banyak mainan. Katanya, aku boleh melakukan apa saja. Di kelas ada tumpukan mainan. Ada kertas bergambar, ada kereta api yang persis seperti yang kupunya dan ada perangkat milik ayah yang dinamai komputer. Guru itu yang menemaniku dari pagi hingga sore. Acara kami jalan-jalan, lalu makan, lalu tidur, lalu mandi, lalu pulang. Ibu guru selalu bercerita yang itu-itu saja. Mula-mula menarik, tapi lama kelamaan aku jadi bosan.

Tiap aku bilang, ?ibuk aku bosan sekolah! Serta merta ibu lalu ayah terus kakak-kakakku menyemprotku dengan kemarahan yang meluap-luap. ?tahu nggak sekolah itu penting. Ayah bisa seperti sekarang ini karena sekolah. Kakakmu yang di luar negeri juga bisa sukses karena sekolah. Berapapun mahal sekolahmu tetap ayah akan ongkosi. Karena apa? Karena sekolah itu penting. Ingat, penting, penting dan penting!! Memang sekolah itu membosankan. Ayah kerja juga bosan. Ibumu ngasuh kamu apa tidak bosan? Jadi jangan sekali-kali malas berangkat sekolah. Kamu harus sekolah! Ingat, harus sekolah!! Itulah yang diucapkan berulang-ulang oleh ayahku. Perkataan yang membuat aku sering menyamakan ayah dengan seorang serdadu.

Kemauan ibu dan ayahku untuk menyekolahkanku begitu besar. Sewaktu aku mampu mengeja angka dengan riang ibu mengumumkannya ke semua tamu. Aku selalu duduk diatas pangkuanya kemudian ibu memintaku untuk mengeja angka dari 1-10. Lalu sewaktu aku bisa menjadi juara harapan untuk lomba lukis, ayah memamerkan karyaku ke semua teman kantornya. Dengan antusias ayahku akan mengatakan, kalau aku anak cerdas yang kelak akan menjadi pelukis besar. Besoknya tiap minggu aku diajak oleh ayah untuk ikut les melukis. Kemudian ibu mendatangkan seorang guru matematika yang mengajariku angka perkalian dan pembagian. Semua pelajaran yang belum diajarkan di sekolah lebih dulu dilatihkan di rumah. Lama-lama aku tidak bisa membedakan antara sekolah dengan rumah.

Ternyata aku tidak bernasib sendirian. Temanku yang bernama Dino juga memperoleh pengalaman serupa. Ia dilatih dari mulai renang, bahasa, komputer, balet, piano dll. Sering kulihat Dino menangis karena kecapekan dengan kegiatannya. Ayahnya hanya bilang, ingat pribahasa: bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ibuku juga bilang padaku untuk meniru sikap Dino. ?Lihat dino itu anak pintar, mau les apa saja. Ibu yakin besok Dino itu akan sukses, tidak sepertimu! Ini yang ingin kubilang kesukaan ibu lainnya, senang memperbandingkan. Dulu kakakku dibanding-bandingkan dengan putera paman yang sekolah di luar negeri. Sepertinya kedua orang-tuaku belum puas kalau melihat anak-anaknya tidak sehebat anak tetangga sebelah.

Itu sebabnya aku sejak kecil di-sekolahkan di tempat yang katanya unggulan. Disana sekolah bisa berawal dari pagi hari dan berakhir ketika matahari ingin tenggelam. Aku berangkat bersamaan dengan kakak yang bekerja di Bank dan pulang hampir bersamaan waktunya. Aku persis seperti pegawai yang menimba ilmu. Tapi ibu dan ayah selalu saja katakan padaku: ?ayah dulu sekolah harus jalan kaki dan tidak pakai buku. Kalau terlambat bisa-bisa ayah dipukul!, biasanya ibu kemudian memberi tambahan komentar yang lebih seram: ?ibumu dulu sekolah sambil jualan dan sering diejek-ejek, karena tidak punya sepatu! Ringkasnya, pengalamanku sekolah yang menyakitkan tidak seberapa beratnya dibanding dengan apa yang pernah ayah-ibuku alami. Yang pingin aku tanya tapi selalu urung aku ungkapkan; apa ibu dan ayahku tidak bosan dengan pengalaman sekolah yang menyakitkan itu?

Kadangkala tak pernah jelas, siapa yang sebenarnya sekolah. Ibu-bapakku atau aku sendiri. Ibuku paling malu jika aku tiba-tiba tak bisa menyebut huruf atau angka secara benar. Ibu dengan bergegas akan menggulung baju lalu menjewerku kalau ketahuan aku dapat nilai buruk. Ayahku sikapnya sama. Dengan ringan tangan diambil bambu kecil untuk menyabet pantatku kalau aku tidak masuk 10 besar. Pendeknya aku tidak boleh tampak tolol apalagi bodoh selama sekolah. ?Kurang apa ibu memberimu fasilitas. Sudah ibu les-kan kamu tiap sore. Ibu tidak ragu untuk mendatangkan guru-guru terbaik ke rumah. Kok kamu masih saja dapat nilai buruk. Kamu ini gimana sikh? Di rumah aku disuruh-suruh dan di sekolah aku dijemput oleh pengalaman buruk.

Yang buruk dan menyakitkan dari sekolah diantaranya adalah larangan untuk melakukan apa yang kita sukai. Aku suka sekali mengunyah permen kalau ibu guru sedang ngomong. Aku suka kalau masuk sekolah tidak terlalu pagi. Aku senang kalau sekolah itu bisa pakai baju bebas, tidak ber-seragam. Dan yang kusukai kalau sekolah memperbolehkan kita keluar kelas seandaianya kita merasa bosan. Tapi tindakan-tindakan itulah yang dilarang oleh sekolah. Yang menyenangkan dilarang dan yang membosankan tambah menjadi perintah. Seperti harus diam kalau guru sedang mengajar. Diam menurut ilmu sekolah sama seperti robot. Jangan suka ketawa terbahak-bahak atau jangan meluapkan kemarahan seenaknya. Ringkasnya, sekolah tempat terbaik untuk mereka yang tidak suka bergerak. Dan aku bukan-lah robot!

Selain larangan, sekolah juga suka sekali memberi perintah. Ada pekerjaan rumah yang ditumpuk-tumpuk tiap hari. Yang menyebalkan setiap perintah tak pernah diberitahukan alasanya secara jelas. Dan guru di sekolah tak pernah minta pendapat kami perlu-tidaknya tugas itu diberikan. Sebab tak jarang tugas yang diberikan tidak masuk akal. Pernah ibu guru memintaku untuk menulis berulang-ulang huruf atau menghapal berkali-kali sebuah kata. Tak tahu apa istimewanya tugas ini, selain membuat ibu guru jadi kelihatan tambah sibuk! Makin berat dan sulit sebuah tugas sepertinya ibu guru makin girang. Jadi di sekolah aku berkenalan dengan tugas-tugas yang diberikan tanpa meminta pertimbanganku lebih dulu.

Di sekolah aku tidak boleh gagal apalagi dibilang bodoh. Semua murid harus bisa. Murid diurutkan berdasar atas kecerdasan. Temanku namanya Gagas selalu menjadi anak pintar. Ibuku minta agar aku mencontoh prestasinya. Aku selalu bilang: ?gagas sama aku lain ibuk! Ia suka matematika tapi aku suka menyanyi. Ia tidak suka main bola sedang aku senang sekali. Kami itu berbeda ibuk! Pernyataanku seperti ini tak bisa ibu terima dan kami selalu mengakhiri perdebatan dengan keributan. Padahal aku juga sering diberitahu Gagas, kalau jadi anak pintar tak selalu menyenangkan. Ia sama sepertiku harus belajar, belajar dan belajar. Kalau kalian pintar nanti akan sukses, begitu guru di kelas selalu nasehatkan kami. Sekolah tak mau menerima anak gagal. Di sekolahan, semua anak harus pintar.

Di sekolah aku sering dibohongi. Kata guruku kalau kita bekerja keras nanti akan berhasil. Kalau kita berhemat niscaya kita akan kaya. Itu tak berlaku untuk ayah dan ibuku. Aku tak tahu apa kerja ayah. Berangkat siang hari dan kadang pulang malam atau pagi. Tapi ayahku selalu punya uang. Ibu, ayah dan kakak-kakakku tak pernah berhemat. Ibuku suka sekali belanja barang. Tiap hari ada saja barang yang dibeli. Kemudian ayahku tergolong orang yang gemar berganti-ganti mobil. Kami semua keluarga yang tak pernah kehabisan uang meski kami juga tak pernah menabung. Ayah juga tiap pulang kerja baunya masih harum. Jika kerja keras diukur dengan keringat. Jika kerja keras dilihat dari kerutan kening atau banyaknya waktu maka itu semua tak berlaku bagi ayahku. Makanya aku sering membantah petuah yang diulang-ulang oleh guruku.

Yang tidak menyenangkan dari sekolah adalah sikap guru yang selalu merasa benar. Guruku tak mau dibantah kalau ia salah. Tiap kali aku membenarkan pernyataan guru selalu aku dapat teguran. Dari mulai berdiri di depan kelas hingga komentar, ?jangan sok pintar ya! Yang menyebalkan kalau guru mewajibkan kami di kelas membeli buku. Promosi guruku tentang buku kadang keterlaluan, bahkan ada pula yang mengancam kalau tidak membeli nilainya akan jatuh.? Guru di sekolahku ada yang menyenangkan tapi jumlahnya sangat sedikit. Banyak yang menyebalkan dan itu membuat sekolah jadi perkara yang menjengkelkan. Aku tak suka orang yang keliru tapi ndak mau dibenarkan. Di sekolah yang diajarkan pokoknya patuh dan taat pada semua perintah guru. Walaupun perintah itu keliru dan sesat.

Tapi anak sebayaku ternyata ada yang tidak sekolah. Di perempatan jalan sering kulihat mereka mengemis dan mengamen. Ibuku hanya bilang, ?itu lihat kasian. Segede itu belum sekolah. Beruntung kamu bisa sekolah. Makanya yang pintar sekolah, kalau bodoh kamu bisa bernasib seperti mereka? Apa benar mereka tidak bisa sekolah karena bodoh? Apa benar anak mengemis karena malas? Ayahku malah melempar tuduhan yang lebih sadis, ?mereka itu sengaja dibisniskan? Aku kadang sebal dengan orang tua yang sering melempar tuduhan seenaknya dan bikin komentar hanya untuk alasan tidak membantu. Apapun yang terjadi, tapi yang jelas, mereka punya hak sekolah sama sepertiku.

Jadi tahu kenapa aku tidak suka sekolah? Selain pelajaran yang kurang membuatku antusias juga karena sekolah tidak bisa menampung semua anak seusiaku. Jika benar sekolah itu penting mengapa kita tidak membuat pendidikan ini bisa diperoleh oleh semua anak. Andaikan benar sekolah itu akan mendidik anak jadi pintar kenapa tidak mengajak anak untuk terlibat? Terlibat segalanya, dari ngurus materi hingga bagaimana usulan tentang metode. Aku yakin kalau sekolah itu tidak hanya berisi larangan dan perintah, pastilah sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. Sungguh!

Tidak ada komentar: